Selasa, 23 September 2008

Artis Mencari Keberuntungan Politik

Oleh: Sahruddin

Dosen FISIP Universitas Nasional

Menjelang pemilu 2009 partai-partai sibuk menjaring calon legislatif. Berbagai cara dilakukan parpol untuk menjaring calon yang populer dan dikenal masyarakat untuk dimajukan pada pemilu legislatif, termasuk dengan membuka pintu selebar-lebarnya bagi kalangan artis. Kehadiran artis dalam dunia politik merupakan hubungan simbiose mutualisme dengan partai politik, dimana kedua pihak akan diuntungkan, di satu sisi partai politik diuntungkan dengan kepopuleran seorang artis sehingga memungkinkan untuk meraup suara secara maksimal tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Kemunculan para artis di layar kaca seolah menjadi promosi dan kampanye gratis bagi partai politik karena masyarakat dengan mudah mengenal calon yang bersangkutan. Artis juga mendapat keuntungan karena mereka akan dengan mudah dikenal masyarakat sehingga pada saat pemilu dengan mudah dikenal para pemilih.

Artis dalam dunia politik
Eksistensi artis dalam dunia politik sebelumnya sudah dibuktikan oleh Ronald Reagen yang menjadi Presiden Amerika Serikat, kemudian aktor Arnold Schwarzeneger sebagai Gubernur California. Di negara tetangga kita juga mencatat sejarah aktor Josep Estrada yang pernah memimpin Filipina. Di Indonesia sendiri kita mengenal artis senior Sophan Sophian yang melanggeng menjadi politisi di Senayan walaupun kemudian mengundurkan diri.
Terpilihnya mereka sebagai pemimpin tidak hanya sekedar modal keartisan seperti Ronald Reagan, terpilih tidak hanya bermodalkan ketampanan wajah tetapi juga karena mempunyai pengetahuan politik yang memadai. Arnold Schwarzenegger terpilih sebagai Gubernur California karena mempunyai visi misi yang jelas sehingga masyarakat menjatuhkan pilihan padanya. Sophan Shopian menjadi anggota DPR tidak hanya bermodalkan kepopuleran, tetapi karena didukung oleh pengetahuan yang memadai dan hal itu terbukti selama menjadi anggota DPR.
Fenomena kehadiran artis dalam dunia politik kembali mengemuka seiring dengan kemenangan beberapa artis dalam pertarungan politik baik di pilkada maupun pemilu legislatif sebelumnya. Kemenangan Rano Karno sebagai wakil bupati di Kabupaten Tangerang dan Dede Yusuf sebagai wakil gubernur di Provinsi Jawa Barat seolah merupakan pertanda bahwa kepopuleran mereka sebagai artis bisa menjadi modal yang dapat diandalkan untuk meraup suara dalam pertarungan politik, di legislatif kita mengenal sebelumnya artis-artis seperti Adji Massaid, Komar dan Angelina Sondak sudah berhasil melanggeng ke DPR.
Melihat keberhasilan beberapa artis sebagai vote getter di ajang pertarungan politik. Sejumlah artis akan meramaikan pilkada yang akan berlangsung di beberapa daerah. Presenter Helmi Yahya akan ambil bagian sebagai cawagub di pilkada di Sumatera Selatan, Saiful Jamil artis yang populer sebagai penyanyi dangdut dan mantan suami Dewi Persik mendaftar sebagai kandidat calon wakil walikota Serang melalui PPP. Pemilu legislatif 2009 juga akan ditemukan wajah-wajah yang sering kita lihat pada layar televisi, mereka tersebut disejumlah partai politik peserta pemilu 2009, sebut saja Adrian Maulana , Tamara Gerandine, Luna Maya, Tamara Blezinsky, Bela Saphira yang banyak diincar partai politik.
Artis populer dan dikemal luas masyarakat akan didekati oleh banyak parpol karena dianggap bisa sebagai vote getter. Kepopuleran artis memang terbukti menjadi ”magnet” bagi masyarakat untuk menjatuhkan pilihannya dan seringkali tanpa pertimbangn kualitas artis yang bersangkutan. Pragmatisme politik yang melanda partai-partai saat ini menjadi kesempatan bagi artis-artis populer untuk mengadu keberuntungan di dunia politik. Semakin populer artis maka semakin banyak partai yang akan ”melamar” artis yang bersangkutan, walaupun bisa si artis tidak mempunyai pengalaman yang relevan dengan dunia politik dan punya pengetahuan yang mumpuni di bidang politik.
Pragmatisme Politik
Pragmatisme politik yang melanda kehidupan politik saat ini menjadi hal yang bisa saja tidak disukai oleh sebagian masyarakat, karena bisa jadi artis-artis yang dipajang oleh partai politik kemampuannnya jauh dari harapan masyarakat. Tetapi berbicara pragmatisme politik adalah sesuatu yang wajar menjadikan artis sebagai caleg, terlepas dari pengalaman dan pengetahuan mereka yang minim di bidang politik. Kapasitas, kapabilitas seorang artis belum menjadi faktor yang dominan untuk menilai kelayakan seorang artis menjadi caleg. Parpol hanya berpikir bagaimana supaya dapat meraih kursi maksimal di lembaga perwakilan rakyat dengan hanya bermodalkan kepopuleran para artis. Kalau hal ini yang menjadi dasar pemikiran dari parpol maka rakyatlah yang pada akhirnya dikorbankan, mengingat tugas-tugas legislator pada saat ini begitu berat dan butuh pengorbanan yang besar sehingga tidak sembarang orang seharusnya yang terpilih jadi legislator.
Semoga kehadiran artis tidak hanya euforia sesaat dan terpilihnya para artis menjadi pemimpin/wakil rakyat memang merupakan pilihan yang tepat dan mereka merupakan bagian yang terbaik dari anak bangsa ini. Artis terpilih tidak hanya dinilai karena kepopulerannya tapi juga kualitasnya. Masyarakat berharap masuknya artis ke dunia politik tidak atas dorongan materi, atau tidak hanya sekedar sensasi semata tetapi untuk melakukan pengabdian yang tulus kepada masyrakat,

Tidak ada komentar: