Senin, 03 September 2007

LEMANNYA PEMERINTAHAN KITA

kata kata itu pantas dan pas untuk menggambarkan tentang pemerintahan kita (baca pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono), bagaimana tidak setiap hari masalah datang silih berganti tapi tak kunjung terselesaikan, sebagai sebuah negara wajar mendapatkan masalah tapi sedikit banyak bisa diselesaikan dan pemerintahan itu sendiri bukanlan sebagai agen yang membuat masalah itu. di indonesia hal ini akan kita temukan disamping banyak masalah yang muncul secara alami yang tidak dapat diselesaikan pemerintah juga sebagai pembuat masalah yang memperrumit keadaan. masalah-masalah yang mucul dari hari jehari semakin banyak, rumit dan amburadul dan tak kunjung dapat terselasaikan karena lemahnya pemerintahan kita dan kurangnnya komitmen yang boleh dibilang dalam semua hal.

contoh yang paling sederhana dapat dilihat dengan mudak kasus lumpur sidoarjo yang terjadi lebih dari setahun yang lalu sampai sekarang tidak kunjung selesai, kenapa ini terjadi karena pemerintah yang lemah dan tidak adanya komitmen yang jelas untuk menyelesaikan masyaralah masyarakat.

sampai sekarang bisa dibayang banyak desa yang tenggelam dan masyarakatnya hidyup tidak jelas, baik ia tempat tinggal, pengidupan dan masa depan keluarga dan yang terutama masa depan anak-anak yang hidup disana sebagai bagian dari anak-anak bangsa yang kelak menjadi penopan kehidupan bangsa ini.

bisa dibayankan agaimana masyarakat begitu sabar hidup dalam serba ketidakpastian sejak lebih dari setahun yang lalu waktu yang tidak singkat masyarakat mau menahan dan merasakan penderitaan, bisa dibayankan bagaimana kehidupan mereka yang selama ini lengkap ada tempat tinggal, ada penghasilan lapangan kerja, ada anak-anak yang ceria pergi pagi kesekolah dengan seragam yang lengkap dan buku-buku yang memadai tiba-tiba terkenal sesuatu yang mereka secara naluriah tidh diharapkan semua orang,


mungkin merekadengan rela hati awalnya mengangap ini adalah musibah yang merupakan kehendak yang maha kuasa bagi mereka aga r tetap tidak lupa akan ajaran dan kehendaknya, mungkin ini sebatas ujian bagi mereka walupun sebenarnya disaping ini ada unsur karena kehendak yang mahakusa yang kita tidak tau ada apa maksud dibelakang ini (dari perspektif ketuhanan) ta[pi kita juga tau kalau disana ada perusahaan besar yang beroperasi, yang mungkin karena kellalaian manusia menyebabkan bencana sehingga wilayah poring sidoarjo jadi terendam yang praktis masayarakatnya sudak tidak punya apa-apa lagi kecuali ada harapan ada penggantian dari pemerintah dan dari pihakperusahaan agar mengganti apa yang hilang darii yangmereka miliki selama ini.


coba dibayangka semenjak terjadi peristiwa kalau kata halusnya musibah itu sampai sekarang nasib mereka berada dalam serba ketidakpastian.

rumah yang tidak ada, anak-anak yang tidak jelas sekolahnya, penghasilan yang hilang, dan kenuikmatan yang selama ini berkyumpul bersama keluarga tidak pernah terulanglagi.


apa salah mereka mengajukan hak yang memang itu harus jadi kembali jadi milik mereka lagi walaupun ditempat lain. selama ini mulai darisetahun yang lalu mereka selalu minta antu rugi dan pemerintah memperhatikan mereka agar mereka sebagai bangsa indonesia sebagai penduduk yang punya hak mendapatkan hak dan dilingdungi dineggeri ini, meminta kepada pemerintah dan pihak perusahaan agar hak mereka di ganti dengan selayaknya.


tapi harapan tinggal harapan, baik pemerintah maupun pihak perusahaan sampai saat ini kalau bicara masalah komitmen sungguh jauh api dari panggang. bisa di bayangkan bagaimana nasib pendidikan dan masa depan ribuan anak sekolah yang tinggal di daerah yang kena lumpur.


coba, kalau sekiranya yang merasakan ini presiden, para menteri utau gubernur /bupati, mau ga mereka merasakan hal yang sama dirasakan oleh masyarakat, saya yakin tidak, tapi kalau mereka sadar atau minimal mereka para perbuat kebijakan terutama SBY harusnya turun tangan (walupun pernah tinggal dan bermalam disodorjo) buktinya samapi sekarang tidak selesai uang ganti rugi 20 persen samapai sekarang relisasinya tidak ada, persoalan dibiarkan saja berlarut-larut tanpa ada penyesaian.


masarakat hidup dalam ketidakpastian, perusahaan yang beroperasi di porong sidoarjo yang membuat kehidupan asyarakat menjadi susah tidak bertanggungjawab atas ulahnya, tapi pemerintah juga tidak memberikan tindakan untuk minimal sedikit bisa mereka dan penderitaan masyarakat. yang terjadi seolah olah pemerintah yang harus menangani seluruh permasyarakan ini.


kalau mau radikal dan tunts setuntas-tuntasnya mudah kok, kalau katanya PT LAPINDO BERANTAS tidak punya uang untuk mengganti rugi kerusakan dan hak masyaakat, tinggal audit dan jula aja perusahaan-perusahaan para pemilik lapindo berantas toh perusahaan mereka tidak hanya itu, malah ABU RIZAL BAKRi dari hari kehari perusahaannya semakin bersinar dibawah BAKRIE GROUP, kalau mau fair jual aja perusaaan yang lain untuk menalangi kerugian yang diderita masyarakat, tapi kan pemerintah tidak punya nyali, tidak mau dan akrena dia juga bagian dari pemerintah mungkin jadi sama-sama tahu pertemenan diantara mereka juga, jadi ngapain dipikirin rakyatbodoh seperti masyarakat sidoarjo. bahkan selama ini sebagaian kerugian yang harusnya ditalangi oleh lapindo ditalangi oleh pemerintah, aneh betul pemerintah ini, orang yang berbuat salah pemerintah yang nalangin, mestinya pemerintah harus berbuat dan memberidikan disinsentif kepada lapindo untuk memenuhi hak-hak sebagai masyarakat yag kena rugi


mestinya masyarakay sidorjo merdeka saja, karena toh tidak ada gunanya ikut dengan pemerintaha sialn kayak gini, tidak ada gunanya bergabung dengan orang-orang sialan yang hidup dinegara ini, toh tidak diperhatikan, tidak dianggap ada, ada dan tiada masyarakat tidak menjadi konsen pemerintah, dan juga kelihatannya ada dan tiada pemerintahan juga tidak masalah karena pemerintah toh tidak berbuat apa-apa, adanya pemerintah juga tidak berpihak kepada masyarakat, keberadaannya juga tidak memberikanmamfaat kepada msyarakat justru kadang banyak kerugiannya,


jadi jangan sampai keluar kesimpulan dari masyarakay ''thesis" tidak ada korelasi yang positif adanya pemerintahan kita kadang yang ada korelasinya negatif yang memberatkan masyarakat, lihat aja berbagai hal yang paling nyata institusi kepolisian seperti polsek pasarminggu, ada dan tiadanya tidak masalah, karena sebagai polsek yang tentunya mempunyai tugas menjaga ketertiban dan kenyamanan hidup toh tidak terrealisir padahal padahal sumber masalah kemacetan tukang palak dan semua bentuk kejahatan aa didepannya. apa artinya keberadaan polsek ini, maka thesisnya bisa akanmengarah keberadaan pemerintahan kita ini terlalu lemah dan kadangtidak diperlukanmakanya tidak terlalu diperlukan.


pendapat pribadi berdasarkan kenyataan yang ada dimasyarakat, silakan dikritik dan ini hanya unek-unek di repuklik tercinta, direpublik orang-orangnya sialan dan menyebalkan.

Tidak ada komentar: