Selasa, 25 September 2007

ASPEK SOSIAL TINGGAL DI RUMAH SUSUN

Oleh: Sahruddin Lubis

SEKILAS RUMAH SUSUN

Relasi antara aspek sosial dan fisik dapat dilihat pada hunian rumah susun. Relasi ini tampak ketika masyarakat kelas bawah yang semula tinggal di perkampungan yang bersifat horizontal harus melakukan adaptasi yang cukup intensif pada hunian rumah susun yang bersifat vertikal. Tujuan penulisan untuk mengetahui adaptasi masyarakat kelas bawah ketika rumah susun. Secara khusus akan dibahas aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam merancang sebuah rumah susun.

PENGANTAR

Berkumpulnya penduduk di kota menyebabkan kepadatan penduduk tinggi. Saat lahan yan sempit dihuni banyak orang, maka lahan semakin langka dan tinggi nilainya. Kelangkaan lahan dengan nilai yang tinggi menharuskan kalangan masyarakat bawah memilih alternatif rumah susun sebagai tempat tinggal. Tulisan ini akan dibahas pengertian rumah susun, latar belakang dibutuhkannya rumah susun, dan aspek yang perlu dipertimbangkan dalam merancang sebuah rumah susun.

PENGERTIAN RUMAH SUSUN

Menurut undang-undang republik indonesia no 4 tahun 1993, rumah susun diberi pengertian sebagai bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bangunan-bangunan yang terstrukturkan secara fungsional dalam arah horizontal maupun vertikal, merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat memiliki secara terpisah terutama tempat-tempat hunian yang dilengkapi dengan bangunan bersama dan tanah bersama.

Di Barat, seperti Amerika Serikat rumah susun ini biasa disebut apartement, tetapi di Belanda biasa di sebut flat. Mereka umumnya menggunakan istilah yang sama, baik untuk rumah susun yang dihuni oleh lapisan masyarakat kelas atas, menengah, maupun bawah. Akan tetapi, ada kecenderungan di indonesia istilah rumah susun digunakan oleh penghuni lapisan masyarakat bawah dengan sarana dan perlengkapan rumah yang sederhana.

Sedangkan rumah susun yang biasanya tidak berlantai banyak (seringakali dua lantai) yang digunakan untuk penghuni lapisan masyarakat menengah kualitas sarana perlengakapan rumah yang cukup sering disebut flat, barangkali istilah ini terpengaruh oleh bangsa belanda ketika menjajah indonesia. Seperti di daerah sekip, Yogjakarta, perumahan yang dibangun pada awal kemerdekaan RI ini disebut flat. Akan tetapi, akhir-akhir ini istilah flat jarang digunakan lagi melainkan disebut perumahan. Sedangkan rumah susun berlantai banyak diperuntukan bagi penghuni lapisan masyarakat tas, dengan sarana yang mewah dan modern sering disebut apartement.

Di Indonesia tampaknya tempat tinggal bersusun memiliki istilah yang berbeda untuk masyarakat kelas atas, menengah, dan bawah. Gejala ini terjadi karena kesenjangan gaya hidup antara lapisan masyarakat cukup tinggi. Sebab kedua, pemerintah memperkenalkan dengan istilah yang berbeda-beda. Perumahan untuk golongan masyarakat yang menengah diperkenalkan dengan istilah perumnas (perumahan umum nasional) atau perumahan, sedangkan untuk masyarakat bawah diperkenalkan dengan istilah rumah susun. Ada gejala pada masa orde baru, pemerintah menggunakan bahasa sebagai ungkapan budaya yang memberi jarak antara status sosial ekonomi lapisan atas, menengah dan bawah.

ASPEK SOSIAL

Masyarakat lapisan bawah tidak mudah menempati rumah hunian bersusun. Masyarakat berpenghasilan rendah ini biasa hidup secara out door living. Untuk mengisi waktu luang, biasanya mereka mencari liburan yang tidak membutuhkan biaya. Satu-satunya hiburan tanpa biaya adalah bergaul dengan tetangga dekat. Selain mendatangkan hiburan, berbincang-bincang dengan tetangga memperkuat persahabatan dan memperat tingkat kohesif masyarakat, sehingga hubungan kemasyarakatan itu dirasa mengayomi individu-individu dikala mereka membutuhkan bantuan dan pertolongan. Pola hidup bermasyarakat ini juga disebut pola hidup komunal. Perasaan kohesif sosial pada pola hidup komunal mengisyaratkan kebutuhan mereka akan ruang horizontal daripada vertikal.

Sebaliknya, pola hidup individual banyak dialami oleh lapisan masyarakat menengah ke atas.mereka biasa hidup secara in door living. Hal ini terjadi karena mereka umumnya tidak mempunyai waktu luang yang pasti dan cukup dirumah setelah seharian bekerja. Sisa waktu di rumah bahkan masih digunakan untuk memikirkan pekerjaan sehari-hari. Seandainya mereka punya waktu luang akan melakukan permaian dan hiburan yang dilakukan secara individual. Tanpa menggangu orang lain yang biasanya dibantu dengan peralatan elektronik. Seperti menonton video, memainkan video game, bermain komputer. Atau adakalanya mencari tempat hiburan dan pergi ke club, memiliki cita rasa tinggi sama barang-barang.

Pola hidup individual ini lebih digerakkan oleh faktor rasional dari pada emosional seperti yang terjadi pada masyarakat komunal. Mereka memilki pola hidup individual lebih memiliki alternatif aktifitas yang bervariasi, termasuk alternatif untuk tinggal di rumah bersusun dengan tingkat privasi yang tinggi dan sarana/prasarana yang memadai. Sedangkan mereka yang hidup secara komunal cenderung memiliki alternatif lain untuk tinggal di rumah bersusun dengan sarana/prasarana yang terbatas.oleh karena itu, usaha membangun rumah susun bagi masyarakat yang bersifat komunal perlu persiapan mental secara khusus.

Dalam pelaksanaannya masyarakat lapisan bawah tidak begitu saja menerima tawaran peremajaan perumahan kumuh menjadi rumah susun.padahal pola yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan pola rumah yang mereka huni, yaitu tetap berpola komunal, berlantai tiga dan skala blok rumah relatif kecil kecil (hanya 25 unit per blok). Masyarakat tidak mudah dibujuk untuk menkonversi rumah yang sifatnya horizontal ke vertikal butuh cara-cara yang lebih persuasif dan kesabaran dalam menjelaskan keuntungan, bagaimana kalau tinggal di rumah susun yang betingkat.

Rancangan rumah susun di Indonesia yang berorientasi pada masyarakat menengah ke bawah mengandung tiga prinsip dasar. Hal ini dilakukan berangkat dari keinginan untuk melayani masyarakat, tanpa memaksa harus mengubah pola perilaku mendasar calon penghuni. Tiga perinsip dasar tersebut adalah tatanan komunal, kegiatan dalam dan kegiatan luar dan arsitektur tropis.

1. tatanan komunal

rumah susun dapat dirancang sebagai rumah tunggal bagi keluarga besar, seperti rumah adat madura, dayak dan aceh. Intinya adalah sebuah ruang besar di tengah. Disekitar ruang itu ada dapur da kamar man di yang mengelompok.

2. kegiatan dalam luar rumah

pada rumah susun,pengertian ruang bersama tidak 100 persen terbuka. Pola ini ternyata efektif dan dapat diterima denga baik. Tatanan communal space dengan private space diberikan tekanan yang jelas. Konsep in door berlaku tatanan ruang dalam kavling rumah dan konsep out door berlaku pada tatanan ruang umum.

3. arsitektur tropis

aspek lain yang cukup menarik sebagai muatan rancangan rumah susun di indonesia adalah penggunaan prinsip bangunan tropis yang diterapkan secara konsisten dan konsekuen. Ada tiga unsur dasar arsitektur tropis yaitu suasanan teduh, banyak angin dan menyatu dengan alam sekitar. Oleh karena itu rumah susun perlu dilengkapi dengan tanaman. Pada lantai yang lebih tinggi, warga didorong menyediakan tanaman di balkon. Agar terasa teduh, tiap balkon diberi atap.

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP RUMAH SUSUN

Persepsi warga terhadap pengertian rumah susun perlu dipersiapkan secara berlanjut dari pemahaman tinggal di rumah kampung yang tiap warga bisa berbuat seenaknya menjadi pemahaman yang menuntut perilaku yang etis dengan pola hidup di rumah susun yang lebih kompleks. Sikap penghuni rumah susun yang menuntut sikap kebersamaan yang tinggi perlu ditumbuhkan sejak dini. Keterkaitan antar penghuni yang satu dengan yang lainnya harus tampak dalam satu kesatuan sistem perumahan yang lebih besar.

Perubahan persepsi tidak hanya berlaku bagi warganya, tetapi juga pada masyarakat luar yang mempersepsikan kehadiran bentuk rumah bersusun ini secara benar. Apabila para pamong yang terkait dengan rumah susun tidak mengubah persepsi seperti pada penghuni, maka penghuni akan mengalami kesimpangsiuran sikap dan perilaku. Akibatnya, akan timbul masalah besar dalam pemamfaatan, perawatan da pengembangan hunian rumah susun secara lebih lanjut.

Pesepsi masyarakat luas yang tidak berubah, seperti sering diutarakan di media massa, sangat berpengaruh bagi perkembangan apresiasi yang baik dalam proses menghuni rumah susun bagi masyarakat golongan bawah. Persepsi yang salah juga sering dikemukakan oleh orang yang punya otoritas, tetapi sama sekali tidak mempunyai pemahaman dan pengalam yang nyata. Kesalahpahaman ini menambah kesulitan dalam menilai pola rumah susun secara objektif.apabila hal ini dibiarkan akan memberi kesan bahwa pemerintah tidak serius dalam mengembangkan pola rumah susun untuk melayani masyarakat kecil.

ADAPTASI SOSIAL DALAM MENGHUNI RUMAH SUSUN

LINGKUNGAN TETANGGA

Pada masa awal menempati rumah susun , adaptasi sosial penghuni di rumah susun dengan tetangganya akan berlangsung seperti seperti kebiasaan pada lingkungan masyarakat, dimana apabila ada penghuni baru akan lebih mudah dikenal masuarakat karena akan ada sosialisasi dari mulut ke mulut. Tapi cepat tidaknya sosialisai ini juga dipengaruhi seberapa sering seorang pendatang baru mengadaptasikan dirinya dengan masyarakat sekitar. Jadi bisa saja orang tahu ada penghuni baru tapi tanpa ada jalinan yang dibina oleh penghuni baru dengan masyarakat sekitar akan mempengaruhi adapatasi social yang ada di rumah susun.

KERJASAMA DENGAN TETANGGGA

Tingkat keeratan hubungan social dapat dilihat dari peristiwa kerjasama dengan tetangga. Pada hunianrumah susun umumnya bekerja sama dengan tentangga, seperti memperbaiki rumah dan saling meminjam peralatan perbaikan rumah. Kerjasama yang erat ini didukung dengan pola hubungan yang rukun di antara penghuni rumah susun. dan umumnya kehidupan yang terjalin bahwa kehidupan diantara penghuni cukup rukun

KUNJUNGAN DENGAN TETANGGA

Kerukunan dan kerjasama yang erat dengan tetangga tampak pula pada kunjungan diantara para penghuni di rumah susun merapi. Pada umumnya untuk mencipatakan hubungan yang lebih baik pola adaptasi yang dilakukan oleh para penghuni rumah susun sering dengan melakukan kunjungan diantara para penghuni.

STATUS SOSIAL

Tinggal di rumah susun dapat meningkatkan status sosial penghuninya. Kebanyakan masyarakat berpikir dan beranggapan status sosial masyarakat akan sedikit naik dengan tinggal di rumah susun karena ada anggapan orang yang tinggal di rumah susun relatif lebih tinggi statsu ekonominya. Hal ini memang tidak berlebihan karena kebanyakan orang yang tinggal di hunian vertikal seperti apartemen adalah orang-orang yang berpenghasilan besar dan status sosial yang tinggi walapun sebenarnya tidak sama kehidupan sosial antara penghuni a[artemen dengan rumaha susun yang tentunya orang yang tinggak di rumah susun jauh lebih kaya. Sementara yang tinggak di rumah susun adalah orang berpenghasilan menengah kebawah dan kalau kita lihat dari aspek kebiasaan, masyarakat indonesia masih merasa kurang terbiasa dan jarang hidup di hunian vertikal. Masyarakat lebih suka hidup di hunian horizontal walaupun dengan hunian seadanya atau jauh dari layak huni. Karena hidup di hunian horozontal lebih leluasa dan tidak terlalu terikat oleh aturan sosial. Mengungat ruangdan tempat yang terbatas, danhal ini akan membatasi keleluasaan penghuni yanglain. Ini sydah meru[pakankebiasaan masyarakat kita terutama masyarakat yangberpenghasilan rendah dan pedesaan.

Kesimpulan dan saran: 1) adaptasi dengan tetanggacenderung lebih lama 2) adaptasi penghuni terhadap fisik bangunan berlangsung lebih cepat daripada terhadap adaptasi social. 3). Status social yang meningkat belum dimbangin dengan taraf ekonomi yang meningkat. Untuk mempecepat adaptasi dengan tetangga rumah susun perlu di rancang secara komunal, tidak sekedar deretan unit rumah/kavling, melainkan di setiap lanatai dibentuk ruangpublik setengah tertutup yang bersifat tertutup yang bersifat komunal, sekalipun harus mengurangi luas taman. Untuk meningkatkan taraf ekonomi perlu dilakukan pembinaan ekonomi rumah tangga.

RELASI YANG TERCIPTA DIANTARA PENGHUNI RUMAH SUSUN

Hubungan yang terbentuk pada penghuni rumah susun akan berbeda dengan masyarakat yang hidup di perumahan horizontal, karena kebiasaan masyarakat yang selama ini mayoritas tinggal di perumahan horizontal, konsep hunian vertikal baik yang berbentuk rumah susun masih sangat jarang di temui dan kalaupun ada di kota-kota besar dan orang mengenal hunian vertikal dalam dua model, untuk kalangan atas berbentuk apartemen yang penghuni orang-orang kaya sementara untuk orang yang berpenghasilan rendah akan tinggal di rumah susun.

Pola hubungan yang terbentuk diantara masyarakat yang tinggal di perumahan vertikal dan horizontal berbeda, hal ini diakibatkan pola relasi antara masyarakat penghuni baik di perumahan horizontal dan vertikal yang berbeda, yang banyak dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat dimana di perumahan horizontal hubungan masyarakat terbentuk didukung oleh ruang yang masih tersisa dimana masyarakat bisa mengejawantahkan pola hubungan dan relasinya di ruang-ruang terbuka, berbincang-bincang merupakan hal umum ditemui pada masyarakat penghuni perumahan horizontal dan relatif lebih terbuka.

Pola hubungan masyarakat di perumahan vertical bisa dibedakan antara apartemen dan rumah susun. Dimana pola hubungan yang tercipta di apartemen akan rebih individulais dan tertututp karena mengingat kesibukan yang dialami oleh penghuni, strata kehidupan ekonomi dan pendidikan yang lebih tinggi tidak memungkinkan penghuni partemen mempunyai waktu luang yang banyak mengingat kesibukan mereka ditempat kerja. Sehingga relasi yang terjalin diantara sesama penghuni sangat terbatas dan banyak yang tidak kenal satu sama lain dan ada juga yang tinggalnya tidak menepat datang dan pergi sehingga tidak memungkin diantara sesama penghuni untuk mengenal sesama penguin satu sama lain dengan lebih mendalam.

Hal ini berbeda dengan pola hubungan yang tercipta di rumah susun yang tidak se individualis pola hubungan di apartemen dan tidak seerat pola hubungan di perumahan horizontal. Pola hubingan yang tercipta di rumah susun akan terbentuk berdasarkan pola interaksi yang tercipta diantara masyarakat yang dipengaruhi ruang yang ada sebagai tempat masyarakat untuk bersosialisasi dan menjalin hubungan.

Masyarakat yang hidup di rumah susun pada awalnya sebagaian besar hidup di perumahan horizontal. Mengingat rumah susun memang diperuntukkan untuk masyarakat yang berpenghasilan rendah (MBR), jadi pola-pola hubungan yang ada mereka temui dan mereka praktekkan di sewaktu dulu mereka masih tinggal di hunian horizontal masih terbawa-bawa, pola hubungan yang tercipta di masyarakat pada awalnya masih seperti kebiasan yang mereka lakukan di hunian horizontal.

Pola hubungan ini lambat laun akan berkurang dan akan terdegradasi seiring dengan perjalanan waktu, hal diakbitkan oleh terbatasnya ruang dan waktu yang dimiliki masyarakat untuk mengewejantahkan interaksi diantara mereka. Terbatasnya ruang yang terbuka menjadi penghalng bagi masyarakat untuk bersosialisasi dan menjalin hubungan. Waktu yang sempit membuat masyarakat tidak punya waktu yang cukup untuk menhjalin komunikasi. Tuntutan hidup yang keras membuat masyarakat mengabdikan hidupnya untuk mencari kerja, sehingga hubungan-hubungan yang terbina akan hanya bertahan dalam dimensi material sementara yang sifatnya spritual (hubungan dengan masyarakat sekitar) akan berkurang. Tentunya hubungan ini tidak seindividualis yang ada pada hunian apartemen, masih terbuka ruang dan waktu masuarakat untuk berkomunikasi sekedar berbincang-bincang diantara sesama di lorong-lorong rumah susun, karena masyarakat perlu bersosialisasi dan mengenal lingkungan tetangga karena tidak semua mempunyai kegiatan dengan jadwal yang ketat dan mendedikasikan waktunya hanya untuk kerja mengingat orang yang hidup di rumah susun adalah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

karena pola hubungan sosial yang ada di rumah susun relatif lebih cair apabila dibandingkan dengan suasana di apartemen. Sepertinya privasi dan rasa aman memang dimaknai secara berbeda di kedua tempat ini. Apabila di rumah susun masalah privat dan rasa aman adalah pola relasi sosial yang didasari oleh konsensus kolektif yang longgar, sementara itu di apartemen, privasi dan rasa aman diterjemahkan melalui serangkaian regulasi dan pembagian teritori yang lumayan ketat. Mungkin kita bisa mendapat penjelasan lebih jauh dari masalah ini dengan meninjau latar belakang kelas sosial dan narasi kolektif yang melatari kehidupan keseharian masyarakat yang tinggal di rumah susun maupun di apartemen.

+some of this is quoted from various books, some parts of this is originally written by me



5 komentar:

Housing mengatakan...

kita sedang buat workshop tematik dan seminar tentang hunian vertikal untuk MBR di kota Yogyakarta, cek blog lembaga kita http://hrcjogja.wordpress.com

HASRUDIN mengatakan...

apartemen, flat, maupun rusun adalah bentuk tanggapan terhadap keterbatasan lahan yang berimbas pada keberlanjutan lingkungan.
indonesia membawa perumahannya kearah vertikal secara ekstrim tanpa mengintegrasikan semua sistem sosial masyarakatnya untuk dapat membawa hunian vertikal sebagai tradisi baru.

Agung Yuriandi mengatakan...

bagus tulisannya pak...

Mr.paw mengatakan...

mungkin buat penulis cocok tinggal di rumah susun ya? karena banyak karakter yang bisa kita lihat di rumah susun, gue belum pernah masuk rumah susun apalagi tinggal, baca blog ini jadi ada bayangan aja seperti apa rmh susun itu, tapi menarik sih, pengen coba ni tinggal di rumah susun, cuma masih ragu cocok gak ya buat orang yang kurang percaya diri dan tidak bersosialisasi kaya gue tinggal di sana? hehehe.

Muhammad Fajrul Falah mengatakan...

memang betul jika hidup di rumah susun akan semakin mempererat rasa kekeluargaan antar penghuni. Good job