Kamis, 09 Agustus 2007

POLITIK PERBERASAN

ANALISIS KORAN KOMPAS (22/2)

MANIPULASI

POLISI MENANGKAP SPEKULAN BERAS BULOG

Oleh: Sahruddin Lubis

Judul di atas terpampang di halaman depan koran Kompas (22/2), dugaan selama ini akan mahalnya harga beras di akibatkan oleh spekulan pedagang beras menjadi terbukti dengan di tangkapnya beberapa spekulan beras di berbagai daerah. Seperti kata kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar I Ketut Untung Yoga Ana, di Jakarta sendiri telah menangkap tiga spekulan beras, para spekulan membeli beras dari bulog dengan harga Rp 4.200 per kilogram dengan kemudian di jual kembali dengan label Ramos seharga Rp 4.640 per kilogram dengan demikian mereka mendapatkan keuntungan Rp 4.40 per kilogram.

Kejadian yang sama juga terjadi diberbagai daerah Sumatera Selatan dimana polisi berhasil menyita 1.31 ton beras OP (operasi pasar) yang akan di jual kemasyarakat dengan harga RP 4.800 sementara meraka hanya membeli dari OP Bulog Rp 3.700. Spekulan beras tidak hanya menjual langsung dengan harga yang lebih tinggi tapi juga menimbun beras yang dibeli dari OP seperti yang di temukan jajaran Kepolisian Resor Ogan Komiring Ulu yang menangkap 16 spekulan dan 4 joki beras OP.

Polisi sebagai aparat hukum yang mempunyai kewenangan untuk memberantas segala bentuk penyelewengan hendak terus sigap, tanggap dan berupaya keras untuk tetap mengawasi pendistrubusian beras di seluruh tanah air, karena hampir semua tempat rawan akan penyelewengan distribusi. Operasi pasar yang di lakukan bulog hendaknya benar-benar dimamfaatkan untuk menstabilkan harga beras dengan cara penjualan beras tepat sasaran langsung kepada masyarakat dan kalaupun kepedagang harus dengan mekanisme yang ketat dan jelas sehingga para pedangan tidak menyelewengkan penjualan beras bulog dengan cara mengganti kemasan dengan merek lain dengan harapan mendapat keuntungan yang lebih besar.

Dalam hal perberasan Indonesia harus sudah punya konsep yang jelas (blue print) sehingga kasus langkanya beras dan mahalnya harga beras di pasaran tidak merupakan kejadian yang berulang-ulang setiap tahun, kita hendaknya berkaca pada beberapa negara yang mempunyai stock beras yang mencukupi setiap tahunnya seperti China mencapai 34 juta ton, India 7 juta ton, Thailand 2 juta ton, Vietnam dan Jepang masing-masing 1 juta ton sementara Korea Selatan 1,1 juta ton. Indonesia yang penduduknya lebih dari 200 juta jiwa memiliki cadangan beras yang kurang dari 1 juta ton. Ini merupakan sebuah ironi kalau kita bandingkan dengan negara-negara yang penduduknya lebih sedikit. Untuk kedepan Indonesia harus lebih punya perencanaan dan target yang jelas sehingga minimal produksi dan stock yang tersedia dapat melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat secara keseluruhan. Dalam hal yang lebih jauh kita bisa menciptakan ketahanan pangan dan kemudian sebagai jalan dan upaya menuju kedaulatan pangan yang tentunya memberikan kesejahteraan kepada seluruh rakyat Indonesia.

Tidak ada komentar: