Senin, 13 Agustus 2007

Perilaku Menyimpang di Kereta Api

Edisi Kereta Api

Kampanye pribadi buat peradaban yang lebih baik

Oleh: Sahruddin Lubis

Bagi anda yang sering bepergian dengan kereta api tentu akan merasakan betapa banyak perilaku menyimpang yang anda temui selama perjalanan. Mulai dari masuk kereta apa yang hampir selalu penuh dan berdesak-desakan, ketakutan akan adanya copet yang selalu mengintai setiap gerak-gerik para penumpang, penumpang yang bergelantungan di pintu-pintu kereta, diatap kereta dan di antara gerbang yang tak jarang memakan korban yang tidak sedikit. Belum lagi ulah para pedagang yang berjualan diatas kereta api yang menambah sesaknya keadaan didalam kereta api, belum lag para penumpang membuang sampah sembarangan di dalam kereta api, ada lagi yang merokok di dalam kereta api yang membuat sesak dada karena dengan lorong yang pengab,panas dtambah lagi asap rokok yang datang dari setiap arah. Dua perilaku meyimpang terakhir merupakan hal yang paling saya benci dan bagi saya tidak manusiawi dan tidak beradab karena tidak hanya pelaku yang kena imbas tapi juga para penumpang lain, berbeda dengan yang bergelantungan dan naik diatas rel yang akan ditanggung sendiri resikonya apabila jatuh. Kedua hal itu akan saya uraikan lebih lanjut kenapa dan bagaimana dan apa efeknya.

Membuang sampah di atas kereta sembarangan

Saya peribadi beberapa kali sewaktu naik kereta berkomunikasi pada orang-orang yang mebuang sampah sembarangan, pertama saya duduk di sebelah ibu-ibu dengan anak-anaknya yang makan jeruk yang baru d beli diatas kereta api, saya lihat ibu itu dan anak-anaknya terusmakan jeruk dan membuang kulit-kulit jeruk di sekitar dia duduk tanpa merasa risih dan berdosa kalau-kalau itu sebenarnya bukan perilaku yang benar, lalu saya minta maaf terlebih dahulu sama ibu tersebut, kurang lebih seperti ini:

saya : bu kalau bisa kita jangan buang sampah di kereta

si ibu : kan ada yang gambilin dan nyapu (maksundnya adanya para anak-anak yang menyapu kereta dan minta recehan)

Percakapan ini mencerminkan bahwa kesadaran seorang ibu ini di sebabkan karena kalau saya membuang sampah dimana pun akan ada yang membersihkannya. Sebuah pembelaan dan alasan yang tidak tepat. Ada lagi kisa saya sewaktu dalam perjalanan saya ke bogor yang lagi-lagi duduk dekat seorang ibu yang sedang makan duku, maklum akhir-akhir ini sekarang sedang lagi musim duku dijakarta kalau pun pohon duku tidak ada di jakarta. Kira-kira seperti ini kejadiannya:

saya : bu kalau bisa kita jangan buang sampah sembarangan diatas kereta

si ibu : kan orang lain juga buang sampah di atas kereta

saya : (dengan agak kesal) kalau bisa kita jangan mengikuti kebiasaan orang yang salah bu.

Si ibu membuang sampah ikut-ikutan tanpa lagi-lagi merasa bersalah dengan alasan orang lain juga membuang sampah sembarangan. Sebuah alasan yang tidak dapat diterima hanya karena orang lain, berarti dengan logika yang demikian kalau orang lain pergi jurang kita juga akan mengikutinya untuk terjun bersama, makanya tidak salah orang Indonesia kelihatannya punya tren yang sama punya prilaku yang memang mau menuju jurang semua, menuju jurang kehancuran karena prilaku di lakukan secara jamaah. Kisah yang tadi hanya kebetulan di contohkan oleh ibu-ibu yang memang benar-benar kisah nyata yang saya alami tapi bukan merupakan gambaran monopoli ibu-ibu saja yang membuang sampah sembarangan diatas kereta api (kejadian ini bukan hanya terjadi di kereta api tapi hampir di semua tempat).

Orang yang buang sampah tidak hanya ibu-ibu seperti yang saya gambarkan tapi juga mulai dari bayi samapi orang tua, mulai dari anak sekolah, mahasiswa sampai pengawai negeri dan orang-orang yang kelihatannya pakaian rapi (saya memang tidak tau apa mereka berpakaian rapi karena status sosialnya lebih tinggi dari yang lain atau bagaimana tapi yang PNS dengan seragamnya pasti bisa di kenali dengan mudah). Perilaku ini gawatnya kalau saya boleh bilang demikian tidak di hinggapi oleh orang dengan strata pendidilkan yang rendah dan orang miskin tapi juga dengan orang yang berpendidikan tinggi. Kalau begini siapa yang mau di jadikan contoh kalau yang sarjana dan mahasiswa saja buang sampah sembarang. Makanya tidak salah bahwa di Negara ini banyak sampah-sampah berdasi.

Efek dari ini semua disampik dari segi estetika kelihatan tidak baik dan merupakan perilaku terhormat, di balik itu semua sampah yang di buang tidak pada tempatnya membuat gerbong dan lantai kereta api kelihatanya sangat kotor penuh denga sampah di sana-sini adak ada kulit jeruk, ada kulit dan biji duku, ada kulit salak ada puntung rokok, ada bungkus rokok, ada kantong plastic bekas tahu sumedang dan lain-lain. Pemandangan ini akan anda temui bagi yang naik kereta tiap hari, betapa tidak masyarakat menyadari bahaya di tengah-tengah kita, kesehatan kita jadi pertarungan, bagaimana tidak mungkin kalau itu semua sumber penyakit yang nyata (tapi memang masyarakat kita sudah ‘’sakit’’ dari dulu,otaknya sudah rusak dan ‘’sakit’’ sehingga berpikirnya juga memang tidak karuan, orang Indonesia memang dalam keadaaan ‘’sakit’’).

Hal ini akan lebih parah kalau hujan turun, berhubung pintu dan jendela yang hampir selalu befungsi baik untuk di buka tapi tidak untuk di tutup, akan membasahi sampah yang ada di kereta api, sampahnya akan semakin ‘’indah’’ kelihatan bagai gado-gado yang penuh dengan bakteri dan penyakit yang senantisa siap ‘’memakan’’ tubuh kita. makanya orang sehatpun dan tidak ikut buang sampah akan terkena imbasnya (penyakitnya), lantas dengan demikian apa kita harus menghindari kereta? Ya mungkin saja bagi orang yang berduit, minimal naik yang executive yang pake AC tapi kan tidak hanya orang berduit yang mau sehat, orang miskin juga mau mau sehat tapi harus naik kereta kalau mau pergi kerja karena keretalah merupakan salah satu transportasi yang murah yang masih dapat dijangkau masyarakat. Jadi kalau begini artinya oang miskin ya harus menerima penyakit yang tidak diinginkan atau dengan kata lain pada saat ini yang mau naik kereta yang penuh sampah harus mau menerima penyakit dan ketidaknyamanan.

Satu lagi perbuatan membuang yang sama sekali tidak pantas di kereta api yang sering saya llihat umunya dilakukan oleh para perokok, yaitu meludah sembarangan di lantai kereta. Sungguh perbuatan yang biadab dan tidak tahu diri, disampin tidak etis dan tidak sopan ada bahaya besar yang akan ditimbulkan oleh ludah yang ditumpahkan diatas lantaik kereta. Sumber penyakit yang maha dahsyat akan menghinggapi orang-orang lain. Coba bayangkan ludah yang bersumber dari orang sehat saja mengandung bakteri yang banyak apalagi ludah dari para perokok yang biasanya banyak juga dianatara mereka yang sudah tua dan batuk-batukan (sungguh tidak ada yang salah dengan ketuaan dan orang tuanya karena it adalah umur yang kita semua akan mengalaminya kalau umur kita panjang) tapi yang salah adalah kemungkinan yang lebih besar akan kita dapati penyakit di dalam ludah yang mereka buang. Coba saja bayangkan kalau sekiranya para peludah mengidap penyakit TBC yang memang biasanya menghinggapèi para perokok, dengan sendirinya orang-orang yang tidak tau kalau di sekitarnya ada ludah yang bercampur dengan air hujan atau telah mengering terbang ke paru-parunya maka yang bersangkutan kemungkinan besar akan mengidap penyakit TBC juga, orang sehat yang tidak merokok menidap TBC yang bukan merupakan kemaunnya sendiri tapi harus menerimanya hanya karena ulah orang-orang yang tidak sadar atau tidak tersadarkan atau memang tidak mau tau. Coba bayangkan berapa banyak para pelajar, mahasiswa dan para pekerja yang naik kereta tiap hari,pelajar yang merupakan harapan bangsa, mahasiswa yang kelak jadi pemimpin bangsa ternyata kena TBC yang akibat ulah orang lain, begitu juga dengan orang-orang kerja yang produktif yang setiap pagi pergi pulang malam kena TBC, mau jadi apa bangsa ini kalau calon-calon penerus bangsa semua generasi pengidap TBC, belum lagi penyakit yang lain. Apa dengan ulah segelintir orang generasi bangsa ini mau di korbankan.

Merokok di dalam kereta yang merupakan tempat umum

Merokok bagi sebagian orang adalah perlaku yang menyenagkan dan mengasikkan

Tidak ada komentar: