Senin, 13 Agustus 2007

PENGECUT KEHIDUPAN


Oleh FP Taufiqurrohman

Pada awalnya sejumlah orang sepakat untuk menempuh sebuah perjalanan. Berbekal niat, tekad, dan kemauan. Karena itu juga sejumlah orang itu kemudian mensepakati untuk mempunyai kendaraan. Sepeda kumbang pun jadi! Syukur ada kendaraan yang bermesin. Jadi tak akan merasa terlalu lelah mengayuh setiap jangkah menuju sebuah tempat yang juga sudah disepakati akan menjadi indah. Sejumlah orang itu pun berkumpul –mirip bualan tentang impian. Tapi saat itu juga bualan-bulan itu nyaris menjadi kesempurnaan yang juga disepakati kembali untuk menempuh dan mencarinya –katanya tak boleh lelah!

Kemudian pada sebuah batas di mana sejumlah orang itu terlalu banyak membual, justru tiba-tiba saja bualan-bualan itu menghablur menjadi sebuah kendaraan –lebih dari sekedar sepeda kumbang! Lantas, secara mendadak dan tiba-tiba sejumlah itu orang kegirangan, bersorak-sorai di tengah malam. Kegembiraan itu seperti mampu membelah kesunyian malam, membangunkan setiap penduduk kota yang tertidur pulas, kemudian berbondong-bondong menuju pinggiran jalan menyambut sejumlah orang yang sedang akan memulai perjalanan itu –mirip karnaval. Sejumlah orang itu semakin kegirangan saja.

Dan mulailah, pada sebuah pagi yang girang, sejumlah orang itu mulai meninggalkan kehidupan lama menuju kehidupan baru yang sudah diperkirakan akan semakin banyak tetaburan bintang dan kesempurnaan tanpa meninggalkan dalih proses yang masih saja membuat sejumlah orang itu merasa gatal dan harus menggaruk kepala kuat-kuat –sampai lecet pun tak masalah, asal sejumlah orang itu bisa berangkat! Namun, entah kenapa, sewaktu baru beberapa meter meninggalkan kehidupan lama, kaki sejumlah orang itu tiba-tiba saja jadi kaku, jantung mereka semakin berdebaran –mirip ketakutan sewaktu sedang berpapasan dengan karnaval mobil-mobil yang basah karena bekas hujan. Sebagian besar pembersih kaca mobil-mobil itu pun masih bergerak untuk menghabiskan sisa hujan yang masih tertinggal di kaca depan.

Kemudian, tiba-tiba saja sejumlah itu, berpikir: pasti di sana sedang hujan deras! Itu buktinya, mobil-mobil yang sedang memapasi kita masih kuyup. Bagaimana dengan kita nanti! Toh di jalan sana kita akan terguyur hujan juga –bahkan lebih deras. Sejumlah orang itu, entah kenapa, tiba-tiba saja mendadak berpikir tentang kedinginan, tentang sakit yang akan menyerang sewaktu mamaksakan diri berjalan dalam hujan!

Sejumlah orang itu pun menjadi kelelahan hanya untuk memikirkan bagaimana caranya selamat dari hujan, selamat dari kedinginan, selamat dari pesakitan, tanpa mengerti bahwa di dalam hujan pun pasti akan ada keberkahan. Tapi tiba-tiba saja sejumlah orang itu berpencar, menyebar, berhenti di sebuah jalan dan memutuskan untuk menunggu hujan reda, padahal di tempat mereka berada belum ada hujan –masih dalam perkiraan. Ah, jika demikian, bukankah mimpi itu sebenarnya masih berbentuk bualan juga! Lalu apa bedanya dengan karnaval perayaan tujuh belas agustusan?!

Tidak ada komentar: