Senin, 13 Agustus 2007

KISAH NAWAL EL SADAWI MENGELILINGI DUNIA

Judul buku: Perjalananku Mengelilingi Dunia, Catatan Perjalanan Seorang Penulis Feminis (Judul Asli: My Travels Around the World)

Penulis: Nawal El Sadawi

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Tebal: xiv + 306 hlm.: 13,5 x 18,5 cm

Oleh: Sahruddin [1]

Tokoh feminis Nawal El Sadawi baru-baru ini Nawal mejadi lebih dekat di hati masyarakat Indonesia, ketika ia datang untuk menghadiri The 7th Triennial Conference 2006 Women Playwright International yang diadakan di Jakarta pada 19-24 November yang lalu. Dia tampil sebagai pembicara kunci dan dalam rangka peluncuran buka My Travels Around the World (1991) yang kemudian diterjemahkan oleh Yayasan Obor Indonesia menjadi Perjalananku Mengelilingi Dunia, Catatan Perjalanan Seorang Feminis.

Tidak Hanya Sebagai Dokter

Buku ini terdiri dari sebelas bagian yang keseluruhan menceritakan bagaimana ia mengarungi perjalannya di empat benua. Dimualai dari kisah perjalanan pertamannya keluar negeri. Aljazair adalah negara yang pertama kali di tujunya, kali ia akan mengikuti konferensi para dokter, seperti kebanyakan perjalanannya dalam buku ini dikisahkan sebagai perjalanan dinas sebagai penyandang profesi dokter pemerintah. Aljazair adalah tempat pertama kali menemukan pengemis yang memakai bahasa perancis, pengemis itu berkata, berikan aku satu piaster? Selama di Aljazair dia pergi ketempat kumuh dimana ditemukan lorong-lorong lembab, rumah-rumah tua dan mata perempuan di bawah hijab dan wajah-wajah kuyu anak para penghuni pemukiman itu. Nawal ketika pergi kesuatu negara selalu menyempatkan diri selalu pergi ketempat yang tidak yang tidak selalu di kunjungi turis tapi tidak jarang dia pergi ke tempat yang jauh dari jangkauan turis.

Selama tinggal di Amerika banyak hal yang telah dilakukan oleh nawal mulai dari mengikuti pertemuan-petemuan mahasiswa arab dan amerika dalam rangka pembebasan Palestina tapi juga banyak hal yang kemudian dia tahu ternyata masyarakat Amerika masih percaya tahayyul. Sebagian masyarakat Amerika masih percaya tentang tidak bolehnya membeli pakean bayi sebelum terjadinya kelahiran karena itu akan memberi isyarat buruk dimana akan terjadi kematian bayi setalah lahir atau selama proses kelahiran. Hal ini ia ketahuai menjelang kelahiran anaknya di Amerika. Hal 60

Konferensi perempuan di Helsinki yang mengantarkanya ke Rusia, para peserta mendapat undangan dari ketua delegasi Rusia yang juga seorang astronot. Di Uni Soviet inilah pertama kali ia melihat negeri yang menaruh minat besar kepada museum. Dia begitu takjub akan melihat carnaval di taman istana musim panas di Leningrad, istana ini dulu merupakan istana Czar Rusia, melihat akan kemegahan istana Nawal jadi memahami alasan-alasan bagi revolusi sosialis di Rusia.hal113

Perjalanan pertamanya ke teheran iran adalah pada tahun 1968. Di Teheran dia ketemu dengan Jalal Al Ahmad yang banyak melahirkan karya-karya, hal inilah yang sering di lakukan oleh Nawal berusaha untuk secara langsung ketemu dengan para penulis di negara yang di kunjunginya.

Perjalanannya ke india merupakan perjalanan yang berbeda dari negeri manapun, perjalanan ke india merupakan perjalanan seumur hidup, dari lahir hingga kematian, dari sebuah lingkaran yang mulai dan berakhir pada titik yang sama, tapi bukan titik yang sama, sebab kematian bukanlah kematian dan awal bukanlah akhir, ungkapnya hal. 153. belakangan dia mengetahui bahwa orang-orang india menghargai kehidupan dalam segala dalam segala bentuknya, bahwa filsafat india ini di dasarkan pada pada kekudusan hidup dan tidak membunuh setiap mahluk hidup bahkan seekor nyamuk pun, seperti yang di lakukan oleh sekte jinia.

Pemberani

Nawal pantas di sebut pemberani, di Thailand dia memasuki panti pijat dengan menyamar sebagai seorang laki-laki, karena yang di perbolehkan ke panti pijat hanya laki-laki, itu ia pertaruhkan hanya untuk memenuhi rasa keingintahuannya, dan sewaktu dia ketahuan sebagai seorang perempuan dia berani berdebat dengan sang manager panti pijat. Betapa tidak dia gamblang menggambarkan kondisi panti pijat (nama lain pelacuran) di Thailand di penuhi dengan anak-anak yang masih di bawah umur.

Perjalanan ke Áfrika dilakukan pada musim panas 1977 dan berlangsung selama tiga bulan. Nawal lebih lanjut mengatakan perjalananya di Áfrika adalan perjalannnya yang terlambat dibanding dengan perjalannya ke Amerika, Eropa dan Asia, meskipun dia sendiri tinggal di benua Áfrika. Selama di Áfrika saya merasa santai bersama mereka dan krasan bersama diri saya, dengan kulit coklat saya, kilahnya hal.249.



[1] Master Lulusan Universitas Roma ‘’ La sapienza’’.

Published on Figur Magazine

Tidak ada komentar: